![]() |
|||
NAMA KELOMPOK :
Adelia Budiman / 1
Angeline Vedy / 5
Daftar Isi :
1.
Judul …………………………………….…………....1
2.
Daftar Isi …………………………………………...…2
3.
Kata Pengantar…………………………………….......3
4.
Biodata Kelompok …………………………………....4
5.
Sosiolog
5.1
Peter Ludwig Beger ( Konstruksi sosial ) ………...5
5.2
C. Kluckholn ……………………………………...5
5.3
Emile Durkheim (Sosiologi struktural) ……….......6
5.4
Max Weber ( Sosiologi weber ) ………………......7
5.5
Aguste comte ( Sosiologi positivis ) ……………...8
5.6
Erving Goffman ……………………….……….....9
5.7
George Hebert Mead ……………………………...9
5.8
Charles Horton Cooley …………………………..10
5.9
Edmund Husserl ………………………………….11
5.10
Joseph Roucek ………………………………….12
5.11
Paul . B . Horton ………………………………..13
5.12
Robert . K . Merton ………………………….….14
5.13
Casare Lambroso ……………………………….14
5.14
Edwin
. M . Lemert ………………………….….15
5.15
Graham Baliane …………………………….…..15
5.16
Erich Fromm ………………………….……...…16
5.17
Koentjaraningrat ……………………………..…17
5.18
Georg Simmel ( Sosiologi filsafat uang ) ……....18
5.19
Ferdinand Tonnies ……………………………...19
5.20
Herbert Marcus………………………………….19
1. Peter Ludwig Berger (
Konstruksi Sosial )
|

Teori :
Konstruksi Sosial
yaitu proses sosial melalui tindakan dan
interaksi dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang
dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. Terbagi menjadi 3 , yaitu :
a.
Konstruktivisme radikal hanya dapat
mengakui apa yang dibentuk oleh pikiran kita. Bentuk itu tidak selalu
representasi dunia nyata. Kaum konstruktivisme radikal mengesampingkan hubungan
antara pengetahuan dan kenyataan sebagai suatu kriteria kebenaran.
b. Realisme
hipotesis, pengetahuan adalah sebuah
hipotesis dari struktur realitas yang mendekati realitas dan menuju kepada
pengetahuan yang hakiki.
c.
Konstruktivisme biasa mengambil semua
konsekuensi konstruktivisme dan memahami pengetahuan sebagai gambaran dari
realitas itu. Kemudian pengetahuan individu dipandang sebagai gambaran yang
dibentuk dari realitas obyektif dalam dirinya sendiri. (Suparno, 1997:25).
2.
|
C.
Kluckholn

Cakupan nilai kebudayaan yaitu :
1. Nilai
mengenai hakikat hidup manusia .
Contohnya , ada manusia yang beranggapan bahwa hidup itu indah.
2. Nilai
emngenai hakikat karya manusia .
Contohnya , ada manusia yang beranggapa bahwa manusia berkarya demi harga diri
3. Nilai
mengenai hakikat kedudukan manusia
dalam ruang dan waktu. Misalnya , ada manusia yang berorientasi pada masa lalu
atau masa depan.
4. Nilai
mengenai hakikat hubungan manusia dengan
alam.
5. Nilai
mengenai hakikat hubungan manusia dengan
sesamanya. Misalnya , ada manusia yang berorientasi pada individualism
3.
Emile Durkheim (Sosiologi
struktural)
|

Teori
:
1. Teori Solidaritas
(The Division of Labour in Society)
a. Solidaritas
mekanis
b. Solidaritas organik
2. Fakta Sosial (The
Rule Of Sociological Method)
2.1 Durkheim membedakan dua
tipe ranah fakta sosial:
a. Fakta
sosial Material
b. Fakta
sosial Nonmaterial
b.1
Jenis-jenis fakta sosial nonmaterial:
a. Moralitas
b. Kesadaran Kolektif
c. Representasi
Kolektif
d. Arus Sosial.
e. Pikiran
Kelompok
3. Teori Bunuh Diri (Suicide)
a. Bunuh
Diri dalam Kesatuan Agama.
b. Bunuh
Diri dalam Kesatuan Keluarga.
c. Bunuh Diri dalam
Kesatuan Politik
Durkheim membagi tipe bunuh diri ke dalam 4 macam:
a. Bunuh Diri Egoistis.
b. Bunuh Diri Altruistis.
c. Bunuh Diri Anomic.
d. Bunuh Diri Fatalistis
4. Teori tentang Agama
(The Elemtary Forms of Religious Life).
4.


|
Max
Weber
Jenis-jenis
tindakan sosial :
a. Zwerk Rational
(Rasionalitas Instrumental)
Ibu Guru Nurhayati
membeli sepeda motor agar ia dapat sampai di sekolah lebih awal. Fauzi
memutuskan untuk belajar materi fisika yang akan diujikan besok daripada
menonton aksi Jet Li di televisi. Dua bentuk tindakan sosial tersebut termasuk
Zwerk Rational. Tindakan tersebut dilaksanakan setelah melalui pertimbangan
matang mengenai tujuan dan cara yang akan ditempuh untuk meraih tujuan itu.
Jadi, Zwerk Rational melekat pada tindakan yang diarahkan secara rasional untuk
mencapai suatu tujuan tertentu.
b. Werk Rational
(Rasionalitas Nilai)
Tindakan sosial jenis ini
hampir serupa dengan kategori atau jenis tindakan rasionalitas instrumental.
Hanya saja dalam Werk Rational tindakan-tindakan sosial ditentukan oleh
pertimbanganpertimbangan atas dasar keyakinan individu pada nilai-nilai
estetis, etis, dan keagamaan. Contohnya, seorang pemuda memberikan tempat
duduknya kepada seorang nenek karena ia memiliki keyakinan etis bahwa anak muda
harus hormat kepada orang tua. Atau, seorang pertapa rela berpuasa sekian hari
untuk mendapatkan berkah sesuai dengan kepercayaannya.
c. Affectual Action
(Tindakan yang Dipengaruhi Emosi)
Tindakan sosial ini
dipengaruhi oleh emosi atau perasaan. Misalnya, hubungan kasih sayang seorang
kakak kepada adik atau hubungan cinta kasih dua remaja yang sedang dimabuk
asmara.
d. Traditional Action
(Tindakan karena Kebiasaan)
Tindakan
sosial ini
dilakukan semata-mata mengikuti tradisi atau kebiasaan yang sudah baku. Seorang
bertindak karena sudah rutin melakukannya.
5.
Auguste Comte
|

3
Tahap Teori Evolusi :
a.
Tahap teologis
Dalam tahap teologis ini terdapat tiga kepercayaan
yang dianut masyarakat :
Yang pertama
fetisysme dan dinamise, menganggap alam semesta ini mempunyai jiwa.
Contohnya, bergemuruhnya guntur disebabkan raksasa yang sedang berperang dan
lain-lain. Kemudian ada animisme yang mempercayai dunia sebagai kediaman
roh-roh atau bangsa halus.
Yang kedua
politeisme, sedikit lebih maju dari pada kepercayaan sebelumnya. Politeisme
mengelompokkan semua dan kejadian alam berdasarkan kesamaan-kesamaan diantara
mereka. Sehingga politeisme menyederhanakan alam semesta yang beranekaragam.
Contoh dari politeisme, dulu disetiap sawah di desa berbeda mempunyai dewa yang
berbeda. Politeisme menganggap setiap sawah dimanapun tempatnya mempunyai dewa
yang sama, orang jawa mengatakan dewa padi yaitu yaitu dewi sri.
Yang terakhir, monoteisme
yaitu kepercayaan yang menganggap hanya ada satu tuhan.
b. Tahap
metafisik
Tahap teologis, semua
fenomena yang terjadi disekitar manusia sebagai akibat dari kehendak roh, dewa
atau tuhan. Namun pada tahap ini, muncul konsep-konsep abstrak atau kekuatan
abstrak selain tuhan seperti “alam”. Tahap ini terjadi antara tahun
1300 sampai 1800.
c. Tahap
positivisme
Tahap ini menjadikan
ilmu pengetahuan berkembang dan segala sesuatu menjadi lebih rasional, sehingga
tercipta dunia yang lebih baik karena orang cenderung berhenti melakukan
pencarian sebab mutlak (tuhan atau alam) dan lebih berkonsentrasi pada
penelitian terhadap dunia sosial dan fisik dalam upayanya menemukan hukum yang
mengaturnya
6.
Erving Goffman
|

Teori
Konsep :
Konsep
Dramaturgi : Presentation of Self, Role, and
Status
Konsep
dramaturgi adalah sebuah analogi kreatif dari seorang Erving Goffman, dimana ia
memandang kehidupan sosial merupakan pertunjukan drama pentas. Menurut Goffman,
diri bukanlah milik aktor, melainkan hasil interaksi dramatis antara aktor dan
audiens.
Konsep
Framing : Stereotipe, Stigma, dan Analisis Framing
|
Goffman membuat kategori tentang stigma, yaitu orang yang direndahkan (stigma
diskredit) dan orang
yang dapat direndahkan (discreditable stigma). Orang yang
direndahkan ialah orang yang memiliki cacat atau kekurangan yang kasat mata,
seperti orang pincang, orang buta, dll. Sedangkan orang yang dapat direndahkan
memiliki aib yang tak kasat mata, seperti pelaku homoseks.
7.
George
Hebert Mead

Ada empat tahap yang masing-masing dari tahap
tersebut saling berkaitan satu sama lain dalam setiap perbuatan.
1. Impuls adalah tahap paling
awal dalam keempat tahap diatas.
2. Persepsi adalah
tahapan kedua, dimana dia adalah pertimbangan, bayangan maupun pikiran terhadap
bagaimana cara untuk bisa memenuhi impuls.
3. Manipulasi adalah
tahapan selanjutnya yang masih berhubungan dengan tahap-tahap sebelum. 4. Konsumsi adalah
upaya terakhir untuk merespon impuls.
a. Gestur
b. Simbol
Dalam
teori George Herbert Mead, fungsi symbol adalah memungkinkan terbentuknya
pikiran, proses mental dan lain sebagainya. Mind
(Pikiran) , Self
(Diri) , I and Me , dan Society (Masyarakat)
8.
|
Charles
Horton Cooley

Dalam konsep The Looking-Glass-Self (Diri yang Seperti Cermin Pantul),
menurut Cooley, institusi-institusi sosial yang utama ialah bahasa, keluarga, industri, pendidikan,
agama, dan hukum.
Sementara
institusi-institusi tersebut membentuk ‘fakta-fakta dari masyarakat’ yang bisa
dipelajari oleh studi sosiologis, mereka juga merupakan produk-produk yang
ditentukan dan dibangun oleh pikiran publik.
Menurut Cooley, institusi-institusi tersebut
merupakan hasil dari organisasi dan kristalisasi dari pikiran yang membentuk
bentuk-bentuk adat-adat kebiasaan,
simbol-simbol, kepercayaan-kepercayaan, dan sentimen-sentimen perasaan yang
tahan lama.
Dengan mengetahui
interaksionisme simbolik sebagai teori maka kita akan bisa memahami fenomena
sosial lebih luas melalui pencermatan individu. Ada tiga premis utama dalam
teori interaksionisme simbolis ini, yakni manusia bertindak berdasarkan
makna-makna; makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain
9.


|
Edmund
Husserl
Teori Fenomologi :
Ada empat unsur pokok dari teori Fenomenologi
Yaitu :
1. Perhatian terhadap aktor dengan
memahami makna tindakan aktor yang ditujukan
kepada dirinya
sendiri.
2. Memusatkan perhatian kepada kenyataan yang
penting atau pokok dan kepada sikap
yang wajar atau
alamiah (natural attitude). Teori ini jelas bukan bermaksud fakta
sosial secara
langsung. Tetapi proses terbentuknya fakta sosial itulah yang menjadi
pusat
perhatiannya. Artinya bagaimana individu ikut serta dalam proses
pembentukan dan
pemeliharaan fakta-fakta sosial yang memaksa mereka itu.
3. Memusatkan perhatian kepada masalah makro.
Maksudnya mempelajari proses
pembentukan dan
pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka
untuk memahaminya
dalam hubungannya dengan situasi tertentu.
4. Memperhatikan pertumbuhan, perubahan dan
proses tindakan. Berusaha memahami
bagaimana keteraturan
dalam masyarakat diciptakan dan dipelihara dalam pergaulan
sehari-hari.
Norma-norma dan aturan-aturan yang mengendalikan tindakan manusia
dan yang memantapkan
struktur sosial dinilai sebagai hasil interpretasi si aktor
terhadap
kejadian-kejadian yang dialaminya.
10.
Joseph Roucek
|

Roucek dan Warren
lebih banyak menekankan sosiologi di bidang sosial yang diantaranya teorinya
antara lain :
1. Lembaga sosial adalah pola aktifitas yang dibentuk untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia.
2. Status adalah seseorang dalam suatu kelompok sosial.
3. Status sosial adalah posisi seseorang dalam masyarakat.
4. Cara-cara pengendalian sosial dengan pemaksaan, reformitas, perilaku sangat banyak jumlah dan ragamnya. Maka cara-cara dan teknik pengendalian sosial yang diuraikan banyak seperti ideologi, bahasa, seni, kreasi, dan organisasi.
5. Tentang organisasi sosial dan partisipasi masyarakat.
1. Lembaga sosial adalah pola aktifitas yang dibentuk untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia.
2. Status adalah seseorang dalam suatu kelompok sosial.
3. Status sosial adalah posisi seseorang dalam masyarakat.
4. Cara-cara pengendalian sosial dengan pemaksaan, reformitas, perilaku sangat banyak jumlah dan ragamnya. Maka cara-cara dan teknik pengendalian sosial yang diuraikan banyak seperti ideologi, bahasa, seni, kreasi, dan organisasi.
5. Tentang organisasi sosial dan partisipasi masyarakat.
Menurut Roucek dan Warren, sosiolog Amerika, ada tiga faktor mempengaruhi pembentukan kepribadian seorang individu, yaitu
1. Faktor biologis/fisik adalah suatu faktor yang timbul secara lahiriah di dalam diri seorang individu. Contoh, seseorang yang dilahirkan dengan cacat fisik atau penampilannya kurang ideal, pasti ia akan rendah diri, pemalu, sukar bergaul, dan sifat minder lainnya.
2. Faktor psikologi/kejiwaan adalah suatu factor yang membentuk suatu kepribadian yang ditunjang dari berbagai watak, seperti, pemarah, pemalu, agresif, dll. Contoh, temperamen pemarah jika dipaksa atau didesak untuk melakukan sasuatu yang tidak ia sukai, maka akan memuncak amarahnya.
3. Faktor sosiologi/lingkungan adalah suatu faktor yang membentuk kepribadian seorang individu sesuai dengan kenyataan yang nampak pada kehidupan kelompok atau lingkungan masyarakat sekitarnya tempat ia berpijak. Contoh, seseorang yang lahir di lingkungan yang penuh solidaritas, pasti orang tersebut akan mempunyai kepribadian solider atau sikap pengertian terhadap sesama.
11.
Paul . B . Horton
|

Faktor
pembentuk kepribadian dipengaruhi oleh:
a. Warisan biologis (keturunan)
Faktor keturunan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Warisan biologis menyediakan bahan mentah dan dapat dibentuk dengan dan dalam berbagai cara.
a. Warisan biologis (keturunan)
Faktor keturunan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Warisan biologis menyediakan bahan mentah dan dapat dibentuk dengan dan dalam berbagai cara.
b. Lingkungan Fisik (geografis)
Perbedaan perilaku kelompok terutama disebabkan perbedaan iklim, topografi, dan sumber alam. Orang yang hidup di daerah pegunungan berbeda kepribadiannya dengan orang yang hidup di tepi pantai.
c. Kebudayaan
Kebudayaan berperan membentuk kepribadian seseorang dan masyarakat. Setiap kebudayaan menyediakan norma yang berbeda antar masyarakat satu dengan lainnya dpan mempengaruhi kepribadian anggotanya.
d, Pengalaman Kelompok
Kadang kala ukuran penilaian antar kelompok saling berbeda, dan dari hal tersebut seseorang harus mau dan mampu untuk memilah-milahkannya.
e. Pengalaman Unik
Menurut Paul B. Horton, pengalaman unik mengandung pengertian bahwa tidak seorangpun mengalami serangkaian pengalaman yang persis satu sama lainnya dan tidak seorangpun mempunyai latar belakang pengalaman yang sama.
12.
Robert . K . Merton
|

Perilaku
menyimpang terjadi karena tidak adanya kaitan antara tujuan dengan cara yang
telah ditetapkan dan dibenarkan oleh struktur sosial.
Merton
mengidentifikasikan 5 tipe cara adaptasi individu,yaitu :
a. cara adaptasi konformitas
b. cara adaptasi inovasi
c. cara adaptasi ritualisme
d. cara adaptasi retreatisme
e. cara adaptasi pemberontakan
a. cara adaptasi konformitas
b. cara adaptasi inovasi
c. cara adaptasi ritualisme
d. cara adaptasi retreatisme
e. cara adaptasi pemberontakan
13.
Casare Lambroso
|

Menurut Casare Lambroso
Penyimpangan Sosial disebabkan oleh Faktor-Faktor :
1. Faktor Biologis
Orang melakukan penyimpangan sosial karena didukung oleh bentuk-bentuk biologis yang mendukungnya
1. Faktor Biologis
Orang melakukan penyimpangan sosial karena didukung oleh bentuk-bentuk biologis yang mendukungnya
2. Faktor
Psikologis
Menjelaskan sebab terjadinya penyimpangan ada kaitannya dengan kepribadian retak atau kepribadian yang memiliki kecenderungan untuk melakukan penyimpangan.
3. Faktor Sosiologis
Menjelaskan sebab terjadinya perilaku menyimpang ada kaitannya dengan sosialisasi yang kurang tepat.
Menjelaskan sebab terjadinya penyimpangan ada kaitannya dengan kepribadian retak atau kepribadian yang memiliki kecenderungan untuk melakukan penyimpangan.
3. Faktor Sosiologis
Menjelaskan sebab terjadinya perilaku menyimpang ada kaitannya dengan sosialisasi yang kurang tepat.

|
14. Edwin
. M . Lemert
Teori Labeling
Teori ini dikemukakan oleh Edwin M. Lemert, menurutnya seseorang menjadi menyimpang karena proses labeling yang diberikan masyarakat kepadanya. Yang dimaksud labeling adalah pemberian julukan, cap, etiket ataupun merek kepada seseorang. Pada awalnya seseorang melakukan “penyimpangan primer” dank arena itu sang pelaku mendapat cap (labeling) dari masyarakat, karena adanya label tersebut sang pelaku mengidentifikasikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi penyimpangannya tersebut
Teori ini dikemukakan oleh Edwin M. Lemert, menurutnya seseorang menjadi menyimpang karena proses labeling yang diberikan masyarakat kepadanya. Yang dimaksud labeling adalah pemberian julukan, cap, etiket ataupun merek kepada seseorang. Pada awalnya seseorang melakukan “penyimpangan primer” dank arena itu sang pelaku mendapat cap (labeling) dari masyarakat, karena adanya label tersebut sang pelaku mengidentifikasikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi penyimpangannya tersebut
15.
|
Graham
Baliane
Menurut hasil penelitian ilmiah Dr. Graham Baliane
(psikiater) biasanya remaja menggunakan narkotika karena beberapa sebab yakni:
1) untuk membuktikan
keberaniannya dalam melakukan tindakan-tindakan berbahaya seperti ngebut,
berkelahi, dan bergaul dengan wania
2) untuk menunjukkan
tindakan menentang otoritas orang tua, guru, dan norma-norma sosial
3) untuk mempermudah
penyaluran dan perbuatan seks.
3) untuk mencari dan
menemukan arti hidup
4) untuk mengisi
kekosongan, kesepian, dan kebosanan
5) untuk menghilangkan
frustasi dan kegelisahan hidup
6) untuk mengikuti
teman-teman sebagai rasa solidaritas
7) untuk sekadar iseng
dan dorongan ingin tahu
16.
Erich fromm
|

Ada lima kebutuhan yang
berasal dari kondisi-kondisi eksistensi manusia, yaitu:
1. Kebutuhan akan keterhubungan. Berasal dari fakta bahwa manusia dalam menjadi manusiawi telah direnggutkan dari kesatuan primer binatang dengan alam. Binatang dilengkapi oleh alam untuk menanggulangi keadaan-keadaan yang harus dihadapinya, tetapi manusia dengan kemampuan berpikir dan berkhayalnya, telah kehilangan interdependensi intim dengan alam. Sebagai penggantinya, manusia harus menciptakan hubungan-hubungan mereka sendiri yang didasarkan cinta produktif.
2. Kebutuhan akan transendensi. Kebutuhan orang untuk menjadi orang yang kreatif dan bukan hanya menjadi makhluk belaka. Apabila dorongan-dorongan kreatif terhambat maka orang menjadi perusak.
3. Kebutuhan akan keterberakaran. Manusia mendambakan akar-akar alamiah; mereka ingin menjadi bagian integral dunia, merasakan bahwa mereka memilikinya.
4. Kebutuhan akan identitas. Orang ingin memiliki suatu perasaan identitas pribadi, menjadi seorang individu yang unik. Apabila orang tidak bisa mencapai tujuan ini melalui usaha kreatifnya sendiri, ia bisa mendapatkan dengan menidentifikasikan diri dengan orang atau kelompok lain.
5. Kebutuhan akan kerangka orientasi. Manusia perlu memiliki suatu kerangka acuan, yakni suatu cara yang stabil dan konsisten dalam memandang dan memahami dunia.
Kepribadian orang berkembang menurut kesempatan-kesempatan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat tertentu. Penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat biasanya merupakan kompromi antara kebutuhan-kebutuhan batin dan tuntutan-tuntutan dari luar. Ia mengembangkan karakter sosial dengan memenuhi harapan-harapan masyarakat.
1. Kebutuhan akan keterhubungan. Berasal dari fakta bahwa manusia dalam menjadi manusiawi telah direnggutkan dari kesatuan primer binatang dengan alam. Binatang dilengkapi oleh alam untuk menanggulangi keadaan-keadaan yang harus dihadapinya, tetapi manusia dengan kemampuan berpikir dan berkhayalnya, telah kehilangan interdependensi intim dengan alam. Sebagai penggantinya, manusia harus menciptakan hubungan-hubungan mereka sendiri yang didasarkan cinta produktif.
2. Kebutuhan akan transendensi. Kebutuhan orang untuk menjadi orang yang kreatif dan bukan hanya menjadi makhluk belaka. Apabila dorongan-dorongan kreatif terhambat maka orang menjadi perusak.
3. Kebutuhan akan keterberakaran. Manusia mendambakan akar-akar alamiah; mereka ingin menjadi bagian integral dunia, merasakan bahwa mereka memilikinya.
4. Kebutuhan akan identitas. Orang ingin memiliki suatu perasaan identitas pribadi, menjadi seorang individu yang unik. Apabila orang tidak bisa mencapai tujuan ini melalui usaha kreatifnya sendiri, ia bisa mendapatkan dengan menidentifikasikan diri dengan orang atau kelompok lain.
5. Kebutuhan akan kerangka orientasi. Manusia perlu memiliki suatu kerangka acuan, yakni suatu cara yang stabil dan konsisten dalam memandang dan memahami dunia.
Kepribadian orang berkembang menurut kesempatan-kesempatan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat tertentu. Penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat biasanya merupakan kompromi antara kebutuhan-kebutuhan batin dan tuntutan-tuntutan dari luar. Ia mengembangkan karakter sosial dengan memenuhi harapan-harapan masyarakat.
17.
Koentjaraningrat
Koentjaraningrat
|
Ada tiga wujud kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1979:
186-187).
Pertama wujud kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, atau norma, kedua wujud kebudayaan sebagai aktifitas atau pola tindakan manusia dalam
masyarakat , dan ketiga adalah wujud
kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Wujud pertama berbentuk absarak, sehingga tidak dapat dilihat dengan indera penglihatan.
Wujud ini terdapat di dalam pikiran masyarakat. Ide atau gagasan banyak hidup
bersama dengan masyarakat. Gagasan itu selalu berkaitan dan tidak bisa lepas
antara yang satu dengan yang lainnya. Keterkaitan antara setiap gagasan ini
disebut sistem. Koentjaraningrat mengemukaan bahwa kata ‘adat’ dalam bahasa
Indonesia adalah kata yang sepadan untuk menggambarkan wujud kebudayaan pertama
yang berupa ide atau gagasan ini. Sedangkan untuk bentuk jamaknya disebut
dengan adat istiadat (1979: 187).
Wujud kebudayaan yang kedua
disebut dengan sistem sosial (Koentjaraningrat, 1979: 187). Sistem sosial
dijelaskan Koentjaraningrat sebagai keseluruhan aktifitas manusia atau segala
bentuk tindakan manusia yang berinteraksi dengan manusia lainnya. Aktifitas ini
dilakukan setiap waktu dan membentuk pola-pola tertentu berdasarkan adat yang
berlaku dalam masyarakat tersebut. Tindakan-tindakan yang memiliki pola
tersebut disebut sebagai sistem sosial oleh Koentjaraningrat. Sistem sosial
berbentuk kongkrit karena bisa dilihat pola-pola tindakannya dengan indra
penglihatan.
Kemudian wujud ketiga kebudayaan disebut dengan kebudayaan fisik (Koentjaraningrat, 1979:
188). Wujud kebudayaan ini bersifat konkret karena merupakan benda-benda dari
segala hasil ciptaan, karya, tindakan, aktivitas, atau perbuatan manusia dalam
masyarakat.
18.
Georg Simmel ( Sosiologi filsafat uang )
|

Interaksi sosial menurut Georg
Simmel memiliki point-point tersendiri yang menurutnya merupakan hal yang
perlu untuk disertakan dalam teori-teorinya, Simmel mengungkapkan beberapa
interaksi, yaitu:
1) Menurut bentuk, meliputi :
· Subordinasi (ketaatan)
· Superordinasi (dominasi)
· Hubungan seksual
· Konflik
· Sosiabilita (interaksi yang terjadi demi
interaksi itu sendiri dan bukan untuk tujuan lain)
2) Menurut tipe, meliputi :
· interaksi yang terjadi antar individu-individu
· interaksi yang terjadi antar individu-kelompok
· interaksi yang terjadi antar kelompok-individu
Pokok pemikiran mikro
Georg Simmel adalah :
a. Kesadaran individu
b. Konsep sosiologi
c. Realitas social
d. Interaksi social
e. Pengaruh jumlah
pada bentuk social
f. Kreatifitas
individu versus bentuk budaya yang mapan
g. Uang dan nilai
19.
Ferdinand Tonnies ( Sosiologi klasifikasi Sosial )
|

Masyarakat
"Gemeinschaft" adalah masyarakat yang mempunyai
hubungan sosial tertutup, pribadi dan dihargai oleh para anggotanya. Dasar
jaringan sosialnya adalah keluarga, sedangkan kepatuhan sosial adalah normanya.
Komunitas seperti ini adalah tipikal masyarakat pra-industri. Kaum Amish di
Amerika kini merupakan representasi bentuk masyarakat ini.
Sedangkan pada masyarakat "Gesellschaft", asosiasi keluarga yang tertutup telah lenyap. Di dalam masyarakat ini, hubungan sosial cenderung impersonal dan tidak berdasarkan kekeluargaan. Ikatan sosial tumbuh dari pembagian kerja yang rumit. Tempat kerja menjadi lebih penting daripada keluarga besar.
Sedangkan pada masyarakat "Gesellschaft", asosiasi keluarga yang tertutup telah lenyap. Di dalam masyarakat ini, hubungan sosial cenderung impersonal dan tidak berdasarkan kekeluargaan. Ikatan sosial tumbuh dari pembagian kerja yang rumit. Tempat kerja menjadi lebih penting daripada keluarga besar.
20.


|
Herbert
Marcus (One Dimension Man)
Teori
yang dikemukakan :



Tidak ada komentar:
Posting Komentar